Warning: Creating default object from empty value in /home/kuning/public_html/tabloid/wp-content/themes/canvas/functions/admin-hooks.php on line 160

Imlek dan Sejarahnya di Kawasan Tangerang

Bagi masyarakat etnis Tionghoa, Imlek merupakan sebuah perayaan yang penting. Dalam perayaan ini, seluruh anggota keluarga akan berkumpul melakukan ragam tradisi secara bersama-sama. Di Indonesia, masyarakat keturunan Cina banyak yang menetap di sekitar Serpong, Tangerang. Bagaimana komunitas ini dapat berkembang dan tinggal di kawasan tersebut tentu ada sejarahnya. Begitu pula dengan tiga kelenteng tua yang ternyata membentuk garis lurus antara satu dengan yang lain. Mari kita lihat ulasan berikut ini.

Kemeriahan perayaan menyambut hadirnya tahun baru 2014 masih begitu terasa. Belum hilang gema terompet dan gemerlap kembang api dari benak kita, tabuhang enderang dan simbal mulai bertalu. Ya, tepat di bulan Januari ini kita akan menyambut tahun baru Imlek yang identik dengan dentuman genderang pengiring tari barongsai. Kemeriahan tahun baru Imlek sangat terasa dengan nuansa merah yang menghiasi sudut-sudut pecinan di Indonesia.

LilinImlek
Bagi masyarakat Tionghoa, tahun baru Imlek merupakan perayaan penting yang dikenal sebagai Chúxīatau berarti “malam pergantian tahun”. Biasanya tahun baru Imlek berlangsung selama 15 hari, dimulai dari hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Pada hari raya Imlek, etnis Tionghoa melaksanakan pemujaan kepada leluhur, biasanya dilakukan dengan memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), kemudian bersembahyang pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur). Oleh sebab itu, pada Hari Raya Imlek masyarakat etnis Tionghoa akan mengunjungi rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) leluhur atau tempat penitipan lingwei leluhur untuk bersembahyang.

Sepanjang 15 hari perayaan tahun baru Imlek tersebut dipenuhi dengan kegiatan sembahyang di pagi dan malam seperti hari-hari biasanya. Namun sebagai bagian dari rangkaian tahun baru Imlek, masyarakat Tionghoa melakukan sembahyang pada malam tanggal 8 menjelang tanggal 9, yaitu saat Cu Si atau sekitar pukul 23.00-01.00 dini hari. Sembahyang yang disebut “King Thi Kong” atau Sembahyang Tuhan Yang Maha Esa ini dilakukan di depan pintu rumah dengan menghadap langit lepas. Dalam sembahyang, digunakan altar yang terbuat dari meja tinggi untuk menaruh sesaji, berupa Sam-Poo (teh, bunga, air jernih), Tee-Liau (teh dan manisan 3 macam), MiSwa, Ngo Koo (lima macam buah), sepasang Tebu, juga beberapa peralatan seperti Hio-Lo (tempat dupa), Swan-Loo (tempat dupa ratus/bubuk), Bun-Loo (tempat menyempurnakan surat doa) dan Lilin Besar.

Kemudian sembahyang akan dilanjutkan lagi pada saat bulan purnama, yaitu pada tanggal 15 dimana pada hari ini biasanya disebut hari Cap Go Meh. Sembahyang penutupan tahun baru ini dilakukan antara waktu Shien Si yaitu jam 15:00-17:00 dan Cu Si pada jam 23:00-01:00.

Boen Hay Bio 1Kelenteng Tertua di Tangerang
Perayaan Imlek juga dirasakan masyarakat Tionghoa di kawasan pecinan Tangerang. Pada malam Imlek biasanya kawasan Tangerang Sangay ramai. Kelenteng-kelenteng seperti Boen Tek Bio yang terletak di dalam Pasar Lama Tangerang, Boen San Bio di Jalan Raya Pasar Baru Tangerang, serta Boen Hay Bio yang berada di sisi Jalan Pasar Lama Serpong juga biasanya akan dipenuhi warga keturunan Tionghoa yang akan bersembahyang. Seperti kita ketahui bersama, ketiga kelenteng di atas merupakan kelenteng besar dan berpengaruh di daerah Tangerang.

Jika kita perhatikan, ternyata ketiga kelenteng ini tertaut dalam satu garis lurus. Jika tiga Boen San Bio, Boen Tek Bio, dan Boen Hay Bio dihubungkan dengan garis imajiner, terbentuklah satu garis lurus yang rentang jaraknya sekitar 16 kilometer. Ketiga kelenteng tersebut berada tak jauh dari sungai Cisadane, yang mengaliri kota Tangerang. Menurut Agni Malagina, seorang ahli sinology dan pengajar Universitas Indonesia, bagi masyarakat Tionghoa sungai diibaratkan urat naga. Menurutnya semakin banyak urat naga maka semakin baik untuk pemukiman. Hal inilah yang diduga mempengaruhi pembangunan ketiga kelenteng tersebut.

Para leluhur masyarakat Tionghoa di sekitar Cisadane dulunya membuka permukiman baru di tepian sungai itu sekitar akhir abad ke-17. Kelenteng pertama yang dibangun adalah Boen Tek Bio,yaitu pada tahun 1684 di kawasan yang kini dikenal dengan nama Pasar Lama. Nama boen Tek Bio bisa diartikan sebagai klenteng kebajikan. Kemudian pada sekitar tahun 1689, dibangunlah Boen San Bio. Namun sayangnya bangunan kelenteng Boen San Bio bukanlah bangunan asli ketika pertama kali dibangun. Akibat kebakaran yang melahap bangunan kelenteng ini, Boen San Bio dibangun kembali dengan rangka beton berdesain dua lantai. Kelenteng yang ketiga adalah Boen Han Bio, yang posisinya berada di sisi selatan Tangerang, dibangun sekitar tahun 1694.

Masih menurut Agni, dalam kebudayan Cina sangat kental dengan fengsui untuk mendirikan sebuah bangunan. Mereka selalu mengkaji letak bangunan atau rumah yang dianggap mempunyai pengaruh baik atau buruk pada manusia yang menghuni atau hidup di sekitarnya. Beberapa aspek yang kerap menjadi perhatian bagi mereka adalah gunung dan laut. Hal itu karena gunung merupakan sumber air yang mengalirkan sungai-sungai, sedangkan laut adalah berkah karena kumpulan urat-urat naga. Jika dikaitkan dengan pembangunan ketiga kelenteng tertua di Tangerang, maka Boen San Bio melambangkan gunung, Boen Hay Bio melambangkan laut, dan Boen Tek Bio, yang berada di tengah-tengahnya, adalah perlambang naganya. Oleh sebab itu, dari setiap nama kelenteng tersebut memiliki makna dan harapan. Selain sebagai tempat beribadah, klenteng itu juga mempunyai fungsi sosial sebagai tempat komunitas berkumpul dan menyelesaikan masalah.

BarongsaiSejarah Perkembangan Masyarakat Cina di Tangerang
Kita mungkin sering mendengar sebutan Cina Benteng bagi masyarakat etnis Tionghoa yang tinggal di sekitar Serpong, atau Tangerang. Sebutan Benteng itu sendiri ternyata sangat historical bagi kota Tangerang. Bahkan saking memiliki keterkaitan yang tak ingin dilupakan, Kereta Rel Listrik Serpong Ekspress disebut juga dengan Benteng Express.

Menurut sejarahnya, warga Cina atau Tionghoa-lah yang pertama kali membuka hutan di kawasan Tangerang yang sekarang menjadi kota Tangerang. Setelah terjadi perjanjian damai antara Banten dan VOC pada tahun 1682, yang menetapkan wilayah yang terletak di antara kota Batavia hingga sebelah timur Cisadane merupakan milik VOC. Untuk mengolah kawasan yang masih berupa hutan belukar itu, VOC memberikan hak milik kepada orang-orang yang pertama-tama membuka lahan. Yang datang membuka lahan kebanyakan orang Tionghoa yang mempunyai keterampilan bertani dan mengolah tanah. Sebagian lahan dijadikan kebun sayur-mayur, namun sebagian besar dijadikan perkebunan tebu yang hasilnya untuk memasok kebutuhan gula di pasaran Eropa.

Orang Tionghoa inilah yang merupakan penduduk pertama lahan yang masih kosong tersebut. Setelah orang Tionghoa, orang-orang yang berasal daerah lain di Nusantara turut meramaikan daerah ini dengan kehadirannya. Laki-laki Tionghoa totok yang datang ke Nusantara kemudian menikah dengan orang-orang dari berbagai daerah itu, sehingga lahirlah Tionghoa Peranakan.

Sudah kenalkan dengan perkembangan masyarakat Cina di Tangerang lengkap dengan tradisi Imlek yang dilakukan setiap tahunnya? Tak ada salahnya menjelang pada Imlek 2565 ini kita menikmati peninggalan-peninggalan tersebut sambil mempelajari seluk beluk sejarahnya. Gong Xi Fa Cai! (teks: Yuniska Mega Putri, foto: Istimewa)

In his comments released with the report, apple ceo tim cook stated, we cellspyapps.org/keylogger/ are proud of the progress we’ve made, and our commitment to diversity is unwavering