Warning: Creating default object from empty value in /home/kuning/public_html/tabloid/wp-content/themes/canvas/functions/admin-hooks.php on line 160

WILLY HUTAGALUNG: “Mandiri dengan Mengembangkan Warisan Kuliner Keluarga”

willy (3)Memang selalu menarik apabila mengetahui latar seorang memulai usaha, berbagai alasan dari yang pelik hingga sederhana banyak tersaji di sana, dan menarik untuk coba dipetik kisahnya. Bagi Willy Hutagalung niatan untuk melestarikan kuliner khas daerah serta keingianannya untuk dapat mandiri menjadi alasan mendirikan rumah makan sederhananya, “Sop Ayam Pecok Klaten Ibu Tini”.

Ada yang terasa janggal ketika mendengar nama Willy yang seorang Hutagalung (marga Batak), namun menjual sop asal Klaten, Jawa Tengah. Rupanya perpaduan unik tersebut memiliki cerita tersendiri, karena Klaten adalah tempat perantauan pria 33 tahun tersebut. Di Klaten pula Willy akhirnya bertemu dengan jodohnya Elis Widiawati. Maka jadi tak mengherankan sosok Willy menjadi fasih berbahasa Jawa.

Pertautannya dengan Elis, istrinya tersebut itulah yang membawa Willy pada kuliner yang saat ini ia bangun usahanya. Rupanya ibu mertuanya, Tini, adalah pedagang kuliner sop ayam yang cukup banyak peminatnya di Klaten. Memang sebelumnya pun Willy telah merintis karir bisnisnya melalui bisnis aneka keripik dengan label “BS” miliknya, namun tak dapat disangkal kelezatan hidangan olahan keluarga istrinya itulah yang membuka usahanya hingga ke Ibukota.

“Sejak tahun 1999, mertua saya Ibu Tini sudah berjualan Sop Ayam di Stasiun Klaten. Orang Klaten kenalnya dengan sop buatan Bu Tini dengan sebutan sop mregil,” kisah Willy. Mregil sendiri berarti terpisah atau memisah. Karena warung sop Ibu Tini di Klaten memang punya letak yang terpisah dengan warung-warung makan lainnya.

Alih cerita Willy yang kala itu bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta di Klaten, mulai berpikir untuk menjalankan sebuah usaha ketimbang hanya bekerja sebagai karyawan. Lalu bisnis kripiklah yang ia jadikan pilihannya. Dari sana jiwa wirausahanya semakin terasah dan terpacu mencari ide memulai usaha baru. Akhirnya pilihannya jatuh untuk mengembangkan serta melestarikan kuliner warisan keluarganya, sop ayam khas klaten.

Tidak tanggung-tanggung Willy langsung ingin mengadu peruntungan usahanya di Ibukota Jakata. Sadar beratnya persaingan bisnis kuliner di Jakarta, Willy pun tidak mau konyol tanpa persiapan. Sebelum membawa sop ayam Klatennya ia pun lebih dulu menyusun formulasi usahanya.

“Sebelum dibawa ke Jakarta, tentunya saya nggak bawa sop saya begitu saja. Sebelumnya saya adakan beberapa penyesuaian terlebih dahulu dengan selera di sini,” ujar pria berkacamata tersebut. Salah satu kiat yang dilakukan Willy adalah dengan pemberian nama menarik pada produk jualannya. Kebetulan nama menarik memang kerap mengundang rasa penasaran dan minat warga ibukota yang cenderung mencari sesuatu yang tidak biasa.

“Saya pun akhirnya coba beri nama sop saya, sop ayam ‘pecok’. Pecok itu dari bahasa Jawa yang aryinya bacok, serem ya mas?!,” ujarnya sembari tersenyum. Pecok atau bacok sendiri memang bukan sekedar sematan nama tanpa arti belaka. karena dalam penyajiannya hidangan sop ayam milik Willy, memang dilakukan ‘pemecokan’, untuk memotong-motong ayam menjadi isian dalam hidangan. Tak heran pengunjung di warunya akan melihat atraksi bacok ayam saat sop ayam disajikan menggunakan pisau besar di sana.

Dari segi tampilan, rasa dan kualitas hidangan Willy pun coba memutar otaknya. “Saya berpikir selera makanan orang Jakarta itukan mulai melirik pada makanan sehat dan menghindari makanan banyak minyak. Akhirnya saya siasati agar kuah sop kita tidak berminyak tentunya tanpa mengurangi kualitas rasa,” jelasnya. Hal tersebut itulah yang menjadi pengunci niatnya bersaing ke Jakarta, mau mengambil pasar penggemar sop berkuah bening.

Namun masalah tempat lokasi memang masih menjadi masalah tersendiri buat Willy. “Yang sulit memang mencari lokasi yang bagus. Yang orang-orangnya doyan makan tapi juga parkir yang memadai,” ujarnya. Meski masih terkendala hal tersebut Willy pun tetap membuka usahnya di daerah Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Raya Kebayoran Lama No. 8b, awal tahun 2012.

willy (1)Setelah dijalankan, sop ayam buatan Willy memang dengan cepat diterima masyarakat. “Waktu itu sih, nggak ada yang bilang nggak enak pada sop saya,” kisah Willy. Namun rupanya kekhawatirannya di awal mengenai lokasi usaha yang ideal terjadi. Meski berlokasi di pinggir jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang, sangat minimnya lahan parkir jadi penghambat signifikan usahanya kala itu.

“Tempat parkirnya susah hampir nggak ada. Jadinya usaha saya kurang berkembang,” ujarnya. Menghadapi situasi pelik akibat terhambatnya usaha yang dijalankan, tal lantas membuat pria berdarah batak tersebut menjadi putus asa. Ia pun lantas memutar otak untuk mencari lokasi usaha baru yang lebih representatif untuk usahanya.

Setelah sempat menjalankan bisnisnya di dua tempat, akhirnya Willy memutuskan untuk boyongan usahnya di lokasi keduanya yang terletak di Boulevard Graha Raya, Tangerang Selatan, awal tahun 2013 dan menutup tempat usaha pertamanya. Di lokasi rumah makan sederhananya sekarang, yang berposisi di pojokan jalan raya tersebut, diakui Willy lebih cocok untuk usahanya. Karena lahan parkirnya juga memadai. “Di sini lokasinya lebih baik, mas. Parkirnya memadai, apalagi rumah saya juga di Graha Raya jadi lebih mudah memantaunya,” ujar Willy.

Di samping usaha kuliner sop ayamnya tersebut, bisnis kripik Willy juga terus berkembang. Kini ia telah memproduksi aneka kripik hingga sebanyak 18 varian, seperti tempe, keripik bayam, ceker ayam, paru, belut, rempeyek kacang hijau dan lain-lain. Meski kini berlabel ‘sampingan’ Willy mengakui produk buatannya telah beredar di sejumlah toko oleh-oleh di kawasan Jogja, Solo dan Semarang.

Demikian kisah bisnis Willy Hutagalung, ingin mandiri dengan melestarikan kuliner warisan keluarga ia pun tak lantas menyerah meski usahanya mendapat hambatan. Semoga kisahnya dapat menginspirasi kita semua. (teks:bayu kusuma yuda/foto: bayu kusuma yuda)

Das ist in zweierlei weise möglich aus dem gegenteil der behauptung folgt unmittelbar das gegenteil bachelorarbeit korrigieren der voraussetzung, d